Friday, November 4, 2011

QURAN DAN SELF-REFERENCE

QURAN DAN SELF-REFERENCE


Copyright © Muhammed Asadi 1999


Sekitar 100 tahun yang lalu, terjadi suatu krisis yang bersifat fundamental dalam dunia matematika, suatu guncangan sederhana yang berdampak terhadap seluruh logika sampai adanya pembenahan. Para logikawan (mereka yang menggeluti ilmu logika) menyadari bahwa mereka telah mengabaikan konsep "Self-reference" sama sekali. Selama berabad-abad, aturan Aristoteles yaitu "Excluded middle" kerap kali digunakan. Peraturan ini adalah suatu proposisi yang menyatakan, “Setiap proposisi dapat bernilai benar atau salah.” Seseorang yang cukup pintar menanyakan kebenaran proposisi ini. Bagaimana jika proposisi yang menyatakan bahwa setiap proposisi dapat bernilai benar atau salah itu sendirinya salah? Semua orang telah tidak menyadari hal itu selama berabad-abad. Tapi tidak begitu dengan Quran. Jika Quran seperti apa yang ia nyatakan, maka ia harus awas terhadap konsep self-reference, yang diaplikasikan terhadap pernyataan-pernyataan yang dikandungnya.

Paul Davies, profesor Fisika Matematika di University of Adelaide di Australia, dalam bukunya, The Mind of God (1992), berbicara bagaimana self-reference mengguncang dasar logika dan bagaimana hal ini dibenahi atau diselesaikan:

Meskipun kebenarannya bisa dikatakan bersifat buatan, interpretasi secara formal bidang matematika menerima pukulan dahsyat pada tahun 1931. Dalam tahun ini matematikawan dan logikawan Austria Kurt Godel membuktikan teorema yang sampai mengakibatkan bahwa terdapat pernyataan matematis dimana tidak ada suatu prosedur sistematis yang dapat menentukan apakah pernyataan tersebut bernilai benar atau salah…. Fakta bahwa terdapat proposisi dalam matematika yang tidak bisa ditentukan kebenarannya merupakan suatu kejutan luar biasa, karena ini tampaknya menjatuhkan seluruh landasan logika dari disiplin ilmu yang bersangkutan.

Teorema Godel bermuncul dari gugusan paradoks yang mengitari permasalahan self-reference… Matematikawan dan filsuf ternama Bertrand Russell mendemonstrasikan bahwa keberadaan paradoks tersebut menghantam ke pusat jantung logika, dan menjatuhkan usaha apapun, yang bersifat sederhana dan langsung ke inti permasalahan, untuk membangun matematika secara kokoh berdasarkan landasan logika. Godel lalu mengadaptasi kesulitan yang ditimbulkan oleh self-reference ini terhadap disiplin ilmu matematika secara cerdas dan tidak pada umumnya. Beliau mempertimbangkan hubungan antara deskripsi matematika dan matematika itu sendiri… Dengan cara ini, operasi logika mengenai matematika dapat dibuat agar mampu berhubungan dengan operasi matematis itu sendiri. Dan inilah intisari dari sifat self-reference dari pembuktian Godel. Dengan mengidentifikasikan suatu subjek dengan objek bahasan – memetakan deskripsi matematika terhadap matematika itu sendiri – beliau menemukan suatu lingkaran (loop) paradoks Russellian yang secara langsung berujung kepada tidak dapat dihindarkannya proposisi-proposisi yang tidak bisa ditentukan nilai kebenarannya. (Davies 1993:100-101).

Godel dan Einstein

Self-reference mempertimbangkan “penggunaan” dan “penyebutan” kata-kata. Saat anda “menggunakan” suatu kata, maka yang disiratkan adalah makna kata tersebut. Saat anda “menyebutkan” suatu kata, anda sedang berbicara mengenai kata tersebut dan bukan maknanya. Setiap kalimat, oleh karena itu, dapat berbicara mengenai kata-kata yang ia gunakan atau makna dari kata-kata tersebut. Sebagai contoh, jikalau saya berkata “Remaja datang sebelum dewasa,” maka secara logika pernyataan ini salah bila tanpa spesifikasi lebih lanjut. Alasannya adalah bahwa dalam kamus, “Dewasa (katanya bukan maknanya)” dicantumkan sebelum “Remaja (katanya bukan maknanya).” Karena Quran berbicara mengenai banyak hal dan memakai banyak kata yang kadangkala mengulang-ulangnya berkali-kali, jika penulis Quran adalah seorang manusia atau sekumpulan manusia, seharusnya kita mendapatkan banyak sekali kesempatan untuk menemukan kesalahan logika self-reference dalam buku ini. Namun kita akan menemukan suatu yang menakjubkan ketika kita mengaplikasikan pemeriksaan self-reference terhadap Quran.

Jika saya berkata, "There is a mistake in the Bible," (terdapat kesalahan dalam Bible) kepada sekumpulan pastor, akan terjadi kegusaran besar dan orang-orang akan merespon dengan penuh emosi, “Tidak ada kesalahan dalam Bible. Tunjukkan kepada kami kesalahan tersebut.” Saya dapat secara logis menunjukkan kesalahan dalam buku tersebut dengan membaca suatu kalimat seperti, "David made a mistake…" (Daud berbuat kesalahan). Lihatlah, kata "mistake" (kesalahan) terdapat dalam Bible. Nah kalau Bible berkata, "There is NO mistake in this book," (Bahwa TIDAK ADA kesalahan dalam buku ini), maka ia secara logika telah terbukti salah, berdasarkan contoh di atas. Namun, untungnya sampai saat ini, Bible tidak pernah membuat pengakuan seperti itu, namun Quran membuat pengakuan semacam itu!

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan (Ikhtelaafun) yang banyak (Kathirun) di dalamnya. Quran 4:82

Arti dari pernyataan (penggunaan kata-kata) di atas jelas. Dengan mempertimbangkan sifat dari Buku itu dan topik yang begitu banyak yang ia bahas, jikalau Buku ini dibuat oleh tangan manusia, maka akan mudah untuk mencari pertentangan di dalamnya. Jika kita memperhatikan “penyebutan” kata-kata yang digunakan, kita akan mendapatkan suatu gambaran yang lain. Marilah kita tengok apakah Quran lulus ujian dari kesalahan berdasarkan kriteria "self reference" dengan berdasarkan “penyebutan” kata-kata.

Dalam hal “penyebutan” kata pertentangan (Ikhtilafun), makna yang timbul adalah bahwa jikalau buku ini buatan manusia, seharusnya ia mengandung banyak (Kathirun) Ikhtilafun (pertentangan yaitu katanya). “Banyak” berarti lebih dari satu. Untuk memeriksa berapa kali kata "Ikhtilafun (pertentangan)" disebutkan dalam Quran, kita menggunakan indeks dari seluruh kata Arab yang ada dalam Quran. Berkat buah keringat Faud Abd al Baqi, kita telah mempunyai indeks Quran semacam itu sekarang, yang berjudul Al- Moojam al Mofahris.

Memang benar bahwa penulis Quran sadar betul akan konsep self-reference dan Quran lulus ujian “penyebutan” kata-kata karena kata "Ikhtilafun (pertentangan)," disebutkan hanya SATU KALI dalam keseluruhan ayat Quran, yaitu pada ayat di atas. Tidak banyak (Kathirun) kali, namun satu kali saja.

Beberapa orang menggabungkan dua kata terakhir dari ayat ini: Banyak (Kathirun) Petentangan (Ikhtilafun). Lalu mereka berkata bahwa mereka bisa menemukan bahwa Quran menyebutkan kata-kata Ikhtilafun Kathirun (Banyak Pertentangan) dan ayat tersebut berkata bahwa jika buku ini datang dari selain Allah maka ia akan mengandung Ikhtilafun Kathirun (Banyak Pertentangan). Ini adalah argumentasi yang sangat cerdik dalam usaha membuktikan Quran itu salah, namun belum cukup cerdas tampaknya.

Mereka yang mencoba untuk menjatuhkan Quran dengan menggabungkan dua kata terakhir mengimplikasikan bahwa, dalam hal penyebutan kata-kata, jika Quran mengandung kata-kata "Ikhtilafun Kathirun (banyak pertentangan)," maka ia berasal dari selain Allah. Pernyataan dalam Quran tidaklah berkata demikian. Pernyataan tersebut menyatakan bahwa buku-buku yang datang dari selain Allah dapat mengandung kata-kata "Ikhtilafun Kathirun," namun begitupun suatu buku yang datang dari Allah. Jadi mereka terjatuh dalam konsep yang terkenal dalam ilmu logika yaitu Fallacy of the Converse. Hujan berarti jalanan yang basah tapi jalanan yang basah belum tentu berarti hujan. Mirip seperti itu, Quran tidak menyatakan “Jika ia mengandung Ikhtelafun Kathirun (banyak pertentangan) ia bersumber dari selain Allah." Quran tidak membuat pernyataan seperti itu. Karena kata penjelas dari ayat tersebut, "Kathirun", yaitu "banyak" dikeluarkan dari konteks tersebut.

Isa (Yesus) Seperti Adam


Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia. Quran 3:59

Makna pernyataan ini jelas. Isa dilahirkan tanpa ayah itu seperti penciptaan Adam. Teori baru yang disebut "mitochondrial eve" mengenai keturunan umat manusia memberikan kesahan lebih lanjut terhadap perbandingan di atas, karena dari seorang wanitalah seluruh umat manusia diciptakan dan Isa (Yesus) juga hanya mempunyai seorang ibu.

Namun, dalam hal penyebutan kata, dikatakan bahwa kata “Isa (Yesus)” dalam Quran sama seperti kata "Adam." Menakjubkan untuk dicatat kalau ternyata memang benar bahwa kata “Isa (Yesus) [halaman 494 dari Index]" dalam penyebutannya dalam Quran sama seperti penyebutan kata "Adam [halaman 24 dari Index]." Kedua kata tersebut muncul dalam Quran 25 kali. Bukan hanya itu, mereka juga mempunyai urutan yang sama. Ayat yang menyatakan bahwa kedua kata tersebut itu mirip adalah ayat dimana terjadi penyebutan yang ke-7 kalinya dari kata “Isa (Yesus)” dan kata "Adam" dalam Quran.

Contoh dari "Anjing"


Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan ORANG-ORANG YANG MENDUSTAKAN AYAT-AYAT KAMI. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. (Quran 7:176).

Kata Arab untuk anjing adalah "Kalb (bentuk tunggal)". Kata “anjing” dalam benutk tunggalnya muncul dalam Quran sebanyak 5 kali. Pernyataan “orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami” juga muncul sebanyak 5 kali dalam Quran. Surah 7:176 adalah pertama kalinya kata “anjing (bentuk tunggal)” disebutkan dalam Quran (lihat halaman 614 dari Index yang disebutkan di atas), dan juga pertama kalinya pernyataan “orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami (halaman 583-584 dari Index)," disebutkan. Oleh karena itu, contoh dari “orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami” sama seperti contoh dari anjing (Kalb), dalam hal penyebutan kata-kata.

Tidak Sama


"Dan TIDAKLAH sama orang yang buta (al-Aama) dengan orang yang melihat (al-Baseer). dan tidak (pula) sama gelap gulita (az-Zulumaat) dengan cahaya (an-Nur). dan tidak (pula) sama yang teduh (az-Zill) dengan yang panas (al-Haroor). (Quran 35:19-21)

[Catatan: Tolong dicamkan saat memeriksa hitungan dalam Index bahwa anda memperhatikan kata “al”. Sebagai contoh, "cahaya (an-nur)," berbeda dengan hanya "cahata (nur)." Oleh karena itu perhatian perlu diberikan, ketika menghitung, kepada hal yang “spesifik” atau yang “umum” dari penggunaan kata.]

Kata "yang buta (al-aama)" muncul dalam Quran 8 kali (halaman 488 dari Index). Kata yang digunakan untuk “yang melihat” di atas, (al-baseer), muncul 9 kali (halaman 121-122 dari Index). Oleh karena itu “yang buta” dan “yang melihat” tidaklah sama. Pernyataan Quran di atas yang menyebutkan “yang buta” dan “yang melihat” tidaklam sama adalah kali ke-5 kata “yang melihat” digunakan dalam Quran dan juga kali ke-5 kata “yang buta” digunakan.

Kata yang digunakan untuk “gelap gulita”, (az-Zulumat), muncul 12 kali (lihat halaman 438-439 dari Index) dalam Quran; kata untuk “cahaya”, (an-Nur), muncul 13 kali (lihat halaman 725 dari Index). Maka “gelap gulita (az-Zulumat)," tidaklah sama dengan "cahaya (an-Nur)." Suatu trend yang kita dapat tangkap dari hal di atas tampak pula dari kata-kata ini. Pernyataan di atas yang menyebutkan bahwa “cahaya” tidak sama dengan “gelap gulita” adalah kali ke-10 kedua kata tersebut digunakan secara beruturan dalam Quran. Hal lain yang menakjubkan yang dapat kita tangkap adalah pernyataan yang sama diulang pada Surah 13: 16, dan trend yang sama muncul kembali (yang membuatnya mustahil untuk menjadi sebuah kebetulan belaka):

…Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang" (Quran 13:16)

Jika kita memerika urutannya, maka merupakan kali ke-6 kata "gelap gulita (az-Zulumat)," digunakan dan kali ke-6 kata "cahaya (an-Nur)," digunakan dalam Quran. Kita dapat melakukan hal yang sama dengan dengan bagian pertama yang telah kita bahas di atas. "Yang buta (al-Aama)" tidaklah sama dengan "yang melihat (al-baseer)". Dalam ayat di atas, Surah 13, adalah kali ke-3 kata "yang buta (al-aama)" digunakan dan kali ke-3 kata "the seeing (al-baseer)," digunakan dalam Quran (dalam ayat yang mengatakan bahwa yang satu tidaklah sama dengan yang lainnya). Dalam Surah 35 di atas, kita dapat melihat bahwa merupakan kali ke-5 kedua kata digunakan dalam Quran. Trend lainnya yang muncul dari hal di atas adalah: Setiap kali Quran mengatakan sesuatu yang tidak sama dengan sesuatu yang lain, hal yang positif (contohnya "yang melihat" (+) sebagai lawan dari "yang buta" (-) dan "cahaya" (+) sebagai lawan dari "gelap gulita" (-)) selalu disebutkan satu kali lebih banyak dari hal yang negatif. Seperti yang dapat kita lihat di atas, "yang melihat (al-baseer)," disebutkan 9 kali berlawanan dengan 8 kali kemunculan kata "yang buta (al-aama)." Sama seperti hal di atas, "cahaya (an-Nur)" disebutkan 13 kali berlawanan dengan 12 kali kemunculan "gelap gulita (az-zulumat)," dalam Quran. Contoh-contoh di atas seharusnya cukup untuk memastikan trend luar biasa dalam Quran ini namun marilah coba satu lagi. Pernyataan di atas dalam Surah 35 berlanjut sebagai berikut:

…nor dan tidak (pula) sama yang teduh (az-Zill) dengan yang panas (al-Haroor) (Quran 35:21)

Kata yang digunakan untuk "yang teduh (az-Zill)," disebutkan 4 kali dalam Quran (lihat halaman 434 dari Index) dan kata "yang panas (al-Har)," disebutkan 3 kali. Pernyataan (35:21) yang menyebutkan bahwa "yang teduh" tidaklah seperti "yang panas," adalah kali ke-3 kedua kata "az-Zill" dan "al-har" digunakan dalam Quran.

Apakah Quran Gagal?


Katakanlah: "Tidak sama yang buruk (al-Khabis) dengan yang baik (at-Tayyab) (Quran 5:100)

Ketika kita sampai pada pernyataan di atas dalam Quran mengenai ketidaksamaan, hal yang disebutkan muncul dengan jumlah kemunculan yang sama. Kata "yang buruk (al-Khabis)," disebutkan 7 kali (lihat halaman 226 dari Index) dan kata, "yang baik (at-Tayyab)," jugalah 7 kali (lihat halaman 432). Apakah Quran gagal? Berdasarkan trend di atas, hal negatif (yang buruk) haruslah satu kali lebih sedikit dari hal yang positif (yang baik). Mengapa “yang buruk” kelebihan satu kali dari semestinya?

Quran hanyalah gagal jikalau kita memotong pernyataan di tengah-tengah kalimat. Ayat tersebut berlanjut:

Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, MESKIPUN banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat KEBERUNTUNGAN (Quran 5:100)"

Jika kita berhati-hati, seperti yang disebutkan ayat di atas, kita dapat melihat bahwa Allah menggabungkan semua “yang buruk (al-Khabis)" dalam penggunaan kata, yaitu semua bentuk kata yang berbeda dan tidak hanya "yang buruk (al-Khabis)”, untuk membedakan antara yang buruk dengan yang baik. Oleh karena itu, "yang buruk (al-Khabis)" dipisahkan dari "yang baik (at-Tayyab)."

…supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu KESEMUANYA ditumpukkan-Nya …” (Quran 8:37)

Bertindak berdasarkan pernyataan di atas dalam “penyebutan” kata, jika kita “menumpukkan” semua "yang buruk (Khabis)," dalam bentuknya yang berbeda-beda yang digunakan dalam Quran, dan dengan bentuk akar yang berbeda, kita akan mendapatkan hasil 16 kali kata "yang buruk" disebutkan berlawanan dengan 7 kali kata "yang baik" disebutkan. Maka yang baik dan yang buruk tidaklah sama jika kita “tumpukkan” meskipun banyaknya "yang buruk" (16 lawan 7) menarik hati kita.

Ini dengan sendirinya mengatakan ketidakmungkinan peniruan Quran. Bagaimana mungkin seseorang atau sekelompok orang dapat menciptakan suatu buku yang secara matematis kokoh, tanpa pendidikan formal dalam ilmu logika atau matematika dan tanpa program komputer atau indeks terkomputerisasi?

Bulan dan Hari


Dalam Index Quran yang disebutkan di atas, jikalau kita melihat jumlah kemunculan kata bulan (Shahr), maka akan ditemukan 12 kali. Terdapat 12 kata “bulan” dalam Quran. Jumlah kemunculan kata “hari” dalam bentuk tunggal (Yaum atau Yauma) adalah 365 kali.

Penemuan ini dalam Quran membuktikan seperti yang telah dikatakan di atas bahwa Quran tidaklah mungkin hasil karya seorang atau sekelompok manusia yang hidup di Gurun Pasir Arabia 1400 tahun yang lalu. Ini juga dapat bertindak sebagai bukti bahwa Quran tidaklah pernah diubah-ubah. Sebagai contoh, pernyataan yang menyebutkan, "ini adalah seperti itu," mempunyai urutan kemunculan yang sama dalam hal “penyebutan” kata. Ayat yang mengatakan bahwa “Isa (Yesus) seperti Adam," sebagai contoh, adalah kali ke-7 kata “Isa (Yesus)” disebutkan dan kali ke-7 pula kata “Adam” disebutkan. Jikalau ada pengubahan atau perusakan, dalam penyusunan Surah atau penomoran ayat atau penambahan ataupun pengurangan, susunan ini akan hancur.

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (Quran 54:49)

Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya (Quran 13:8)

Daftar Pustaka


1. Penemuan ini berdasarkan kepada kuliah "The Amazing Qur’an." Tingkat akurasi dari “penyebutan kata” dalam Index Al Moojam ul Mofahris telah diperiksa berkali-kali oleh saya sendiri. Nomor halaman diberikan bagi siapapun yang ingin memastikan sendiri.

2. Asadi, Muhammed. 1992. Koran: A Scientific Analysis. Lahore, Pakistan.

3. Davies, Paul. 1993. The Mind of God. New York. Touchstone Books.

Catatan


Bible tidaklah bebas dari paradoks (pertentangan) konsep self-reference. Paradoks yang dikenal dengan nama "Epimenides paradox" sangat amat diketahui. Paulus, yang menulis kepada Titus, berbicara tentang orang-orang Kreta:

12. One of themselves, even a prophet of their own said, The Cretans are always liars, evil beasts, slow bellies. 13. This witness is true…. (Titus 1:12-13- The Bible)

12. Seseorang dari kalangan mereka, nabi mereka sendiri, pernah berkata: “Dasar orang Kreta pembohong, binatang buas, pelahap yang malas.” 13. Kesaksian itu benar…. (Titus 1:12-13)

Analisa berdasarkan konsep self-reference memberitahukan kepada kita bahwa jika pernyataan orang Kreta adalah “always liars” atau “pembohong” dinilai sebagai benar, maka karena "one of themselves [a Cretan]" atau “Seseorang dari kalangan mereka [seorang Kreta]” berkata demikian, maka pastilah ini merupakan suatu kebohongan. Jadi jikalau pernyataan itu benar maka ia adalah suatu kebohongan (berdasarkan konsep self-reference). Hanya jika pernyataan bahwa "Cretans are always liars" atau “orang Kreta itu pembohong” bernilai salah-lah, maka "witness" atau “Kesaksian” itu bisa benar. Jadi ini merupakan paradoks, suatu kontradiksi yang tidak mungkin diselesaikan. Ini menunjukkan bahwa penulis surat ke Titus tidak tahu apa-apa mengenai yang dia sedang bicarakan.

Mitos Hadits!

Mitos Hadits!

Oleh Layth (e-mail: laytth@hotmail.com)

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Quran, 17:36)

Ayat di atas telah membuat takjub mereka yang menjadi murid dari agama Allah. Ayat tersebut selalu mengingatkan mereka “kriteria” yang dijadikan dalam menerima dan menegakkan apa yang diberikan kepada mereka sebagai “hukum”.

Kita sebagai manusia diwajibkan oleh Allah untuk menggunakan indera yang kita miliki (penglihatan, pendengaran, dan pikiran) sehingga kita dapat memastikan dan membedakan kebenaran dari kepalsuan… Menjadi pengikut buta TIDAK diperbolehkan dalam Quran dan itu dicap sebagai salah satu tanda kekufuran:

“Dan perumpamaan orang-orang kafir adalah seperti mereka yang MENGULANG (Yan’iq) hanya apa yang mereka dengar melalui seruan dan panggilan saja, tanpa mengerti. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.” (Quran 2:171)

Malahan, Quran berpesan sebaliknya dan menekankan kapada ‘pemikiran’ dan ‘perenungan’ karena itulah satu-satunya jalan menuju apresiasi yang sesungguhnya terhadap pesan yang dikandung di dalam Quran.

“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka BERPIKIR.” (Quran, 59:21)

Sejarah Hadits:


Kata ‘Hadits’ sudah tidak terpisahkan dari Islam zaman ini dan dapat diterjemahkan paling tepat sebagai ‘perkataan’ dari Muhammad atau para sahabat beliau..

Hadits diterima sebagai sumber ke-2 dalam Islam (dengan Quran adalah sumber yang pertama) dan telah terbentuk menjadi suatu disiplin ilmu sendiri sampai ada orang yang menghabiskan seumur hidupnya hanya mempelajari “Hadits” dan kompilasi-kompilasinya.

Kaum muslim diajarkan bahwa Muhammad membawa Quran bersama beliau dan perkataan yang berupa “Hadits” dan tindakan yang berupa “Sunnah”. Kaum muslim meyakini bahwa ketiga rukun ini tidaklah dapat dipisahkan dan bahwa Islam tidak dapat berdiri sama sekali jika salah satunya dihilangkan.

Yang mungkin mengejutkan bagi kebanyakan orang adalah bahwa “Hadits” tidak dikompilasi dan ditinjau ulang sampai lebih dari dua ratus tahun setelah kematian Muhammad; pertama-tama oleh Imam Bukhari (meninggal 256H/870), lalu Muslim (meninggal 261H/875), Abu Daud (meninggal 275H/888), Tirmidhi (meninggal 270H/883), Ibn Maja (meninggal 273H/886), dan al-Nasa'i (meninggal 303H/915).

Dalam pernyataan pembukaannya, Bukhari (yang dianggap sebagai sumber nomor satu dari Hadits shahih) menyatakan bahwa dari hampir 600 ribu Hadits yang ia ketahui pada zamannya, dia hanya dapat memastikan sebanyak 7397 sebagai hadits shahih dari Muhammad. Ini adalah suatu pengakuan dari para pendukung Hadits bahwa sedikitnya 98.76%, dari apa yang orang diharuskan untuk percaya sebagai sumber kedua selain Quran dan sebagai salah satu sumber utama hukum Islam, adalah semata-mata suatu kebohongan belaka!

Apa yang orang gagal untuk sadari adalah bahwa sejarah Hadits itu sendiri seringkali dilupakan dan Hadits diperlakukan seakan-akan sebagai sesuatu yang ditulis saat Muhammad masih hidup untuk disimpan sebagai catatan. Padahal, buku sejarah mencatat bahwa ada LARANGAN untuk menulis Hadits yang diperintahkan langsung oleh Muhammad sendiri dan terus berlaku sampai hampir 100 tahun setelah beliau wafat.

“Muhammad berkata: ‘Jangan menulis apapun dariku KECUALI QURAN. Siapapun yang menulisnya, hancurkanlah tulisan itu(Muslim, Zuhd 72; Hanbel3/12,21,39)

Hadits di atas diketahui dan diterima oleh para pelajar Hadits di seluruh dunia, namun, alasan pelarangan tersebut menurut mereka adalah bahwa Muhammad takut kalau “Hadits” akan tercampur dengan Quran menjadi satu buku dan larangan ini hanyalah mekanisme pengamanan.

Yang tidak dapat dijelaskan oleh para pelajar hadits adalah MENGAPA larangan yang sama masih ditegakkan hampir 30 tahun setelah beliau meninggal dan SETELAH Quran telah selesai dibukukan menurut sejarah!

Zayd Ibn Thabit mengunjungi Khalifah Mu'aawiya (labih dari 30 tahun setelah kematian Muhammad), dan menceritakan kepadanya suatu kisah mengenai Muhammad. Mu'aawiya meyukai cerita tersebut dan memerintahkan seseorang untuk menulisnya. Namun Zayd berkata, "Utusan Allah telah memerintahkan kita untuk tidak pernah menulis apapun dari perkataan (Hadits) beliau." (Narasi oleh Ibn Hanbal)

Menurut buku sejarah Islam, larangan penulisan "Hadits" baru dianulir sekitar 80 tahun setelah Muhammad meninggal oleh Umar Bin Abdulaziz (cucu Umar Bin Al-Khatab). Malahan, yang menjadi ironis dari sejarah ini adalah bahwa Umar Bin al-Khatab sendirinya sangatlah menentang penulisan segala macam wahyu KECUALI Quran itu sendiri:

Umar Bin Al-Khatab pernah berkata: 'Saya ingin menulis tradisi (Sun'an), dan saya ingat kaum sebelum kamu, mereka menulis buku-buku lain untuk diikuti dan meninggalkan Buku Allah. And saya tidak akan pernah, saya bersumpah, menggantikan Buku Allah dengan apapun juga' (Narasi oleh Jami' Al-Bayan 1/67)

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, hanya dalam jenjang waktu 200 tahun dari kematian Muhammad (hanya 130 tahun setelah larangan itu dicabut) telah beredar lebih dari 600 ribu Hadits pada zaman Bukhari yang semuanya dikatakan bersumber dari Muhammad. Bukhari sendiri mengakui telah menghabiskan hampir 40 tahun mempelajari Hadits dan hanya dapat memastikan rantai periwayatan sebesar 1.24% dari kesuluruhan yang beredar!

Permasalahan dengan Hadits:


Bukhari dan mereka setelahnya menghabiskan bertahun-tahun dalam penelitian dan penyaringan Hadits sampai akhirnya bidang ini menjadi disiplin ilmu sendiri. Jejak Bukhari secara cepat diikuti oleh Muslim (meninggal 261H/875), Abu Daud (meninggal 275H/888), Tirmidhi (meninggal 270H/883), Ibn Maja (meninggal 273H/886), dan Al-Nasa'I (meninggal 303H/915) sebagai pengumpul yang paling tersohor dalam bidang ilmu ini.

Meskipun dapat menjadi sesuatu yang menenangkan kaum muslim yang membaca artikel ini untuk mengetahui bahwa terjadi proses penyaringan oleh para peneliti di atas, haruslah diperjelas secara pasti APA sebenarnya proses penyaringan tersebut:

San'ad (Rantai Periwatan).


Bukhari mengandalkan kepada seni yang ia ciptakan sendiri yaitu seni “Periwayatan” dimana ia menyatakan bahwa suatu "Hadits" dapat diterima sebagai shahih atau ditolak berdasarkan atas dari SIAPA yang riwayat Hadits tersebut berasal.

Bukhari mempelajari para sahabat Rasul dan menetapkan bahwa semuanya merupakan orang yang dapat dipercaya. Lalu dia mulai bertanya kepada orang-orang yang hidup setelah mereka, dan jika berdasarkan “pembicaraan” publik bahwa orang ini atau orang itu dapat dipercaya, maka Bukhari tidak menemukan masalah menerima suatu "Hadits" yang diriwayatkan oleh narasumber tersebut.

Untuk mengatasi permasalahan "objektivitas" dan fakta bahwa Hadits pada intinya didasarkan kepada “kabar burung” atau "hearsay", Bukhari menemukan suatu Hadits yang sangat membantunya (yang masih dikutip oleh para pelajar Islam) yang memberikan para sahabat Rasul dan seluruh perawi Hadits kemampuan manusia super yang memungkinkan mereka untuk mengingat kata per kata perkataan Rasul tanpa cacat atau distorsi.

Meskipun hal di atas tidak terdengar ilmiah atau bahkan objektif bagi kebanyakan orang, namun itu adalah metode yang benar-benar digunakan untuk mendapatkan sumber ke-2 dari hukum Islam.

Sementara sedikit sekali non-muslim yang mampu menyangsikan keaslian Quran, sayang sekali Hadits tidaklah seberuntung itu!

Banyak sekali kelompok dan agama lain yang telah menjadikansuatu praktek untuk mempermalukan kaum muslim dengan mengutip Hadits yang “konyol” yang membandingkan wanita dengan keledai (Hadits mengenai apa yang membatalkan shalat) atau kebanyakan dari kaum wanita akan masuk neraka! (Hadits tentang Isra’ dan Mi'raj).

Kaum muslim biasa bereaksi terhadap tuduhan-tuduhan di atas dengan menjadi marah dan menghindar, dengan mengatakan bahwa orang-orang tersebut hanyalah ingin “menghina” Muhammad. Yang tidak disadari oleh kaum muslim ini adalah bahwa “KEBENARAN” dapat tahan dari segala macam pertanyaan dan pemeriksaan meski berniat menjatuhkan.

Permasalahan Tambahan Dari Hadits:


Jikalau hanya malu yang disebabkan oleh Hadits, kita tidak akan terlalu masalah. Namun efek dari “kabar burung” subjektif ini jauh lebih besar.

Manusia dilahirkan dengan mempunyai naluri alamiah untuk menyelidiki. Siapapun yang telah mempunyai anak akan tahu bahwa sesering apapun berkata “jangan”, anak akan tetap saja mencoba untuk memegang panci yang panas atau bermain dengan tanah kotor untuk mengerti MENGAPA mereka tidak boleh melakukannya. Ini adalah mekanisme yang dikaruniakan Allah agar kita dapat memperkaya pengetahuan dan menerima hanya apa yang kita mengerti dan kita ketahui.

Ketika kaum muslim berkuasa dan hidup berdasarkan Quran, tidak ada masalah terhadap naluri alamiah manusia untuk mencari tahu karena Quran mempunyai jawaban atas semua macam pertanyaan… Kaum muslim saat itu adalah saksi pertumbuhan intelektual yang tidak tertandingi di tanah Arab maupun dunia…

Dorongan untuk bertanya dan menyelidiki mengantarkan anak-anak kaum muslim tumbuh dalam atmosfir dimana TIDAK ADA yang dianggap tidak terjangkau ataupun tabu. Pertanyaan yang mereka lontarkan hanyalah menumbuhkan selera tak terbatas dalam mencari pengetahuan, yang terpuaskan dari berbagai penemuan dan kemajuan di segalam bidang ilmu pengetahuan.

Lalu, beberapa ratus tahun setelah Quran memotori revolusi “intelektual” dalam konsep berpikir kaum muslim… terjadilah suatu perubahan …

Kemunculan "Hadits" secara meluas dan popularitasnya di kalangan masyarakat perlahan-lahan mulai menciptakan masalah dalam pendidikan kaum Muslim. Hadits bahkan tidak dianggap sejajar dengan Quran dikarenakan tingkat bahasanya yang lebih rendah dan dasarnya yang berupa “kabar burung” dan “asumsi”.

Pendukung Hadits hampir selalu terdesak oleh pelajar muslim yang tulen yang menginginkan penjelasan terhadap kontradiksi yang jelas nyata dan isi yang tidak logis.

Kita hanya dapat berasumsi bahwa penetapan Hadits sebagai sumber hukum Islam barulah dicapai berabad-abad setelah pengumpulan awal yang dilakukan oleh Bukhari dan kawan-kawan HANYA dengan memaksa kepada kaum muslim dengan penolakan terhadap penyelidikan atau penanyaan secara teliti.

Anak-anak muslim di sekolah saat ini diajarkan dari usia sangat muda untuk tidak bertanya atau menganalisa sumber agama mereka karena mereka dapat mendatangkan murka Allah dan berjalan menuju neraka.

Pertanyan para murid biasanya dijawab dengan jawaban seperti: ‘Apakah kamu itu LEBIH BAIK dari generasi sebelumnya yang telah berjuang bersama Rasul?’ atau ‘Apakah kamu membenci Rasul sehingga kamu MENANYAKAN Sunnah beliau? '.

Dengan tuduhan seperti itu, kaum muslim muda telah sejak dini belajar untuk hanya menerima apa yang mereka dapatkan tanpa pemikiran atau pertanyaan… Dan saat mereka telah dewasa, mereka mengulangi hal yang sama kepada generasi muda mengenai jalan ke neraka dan tidak menghormati Rasul… Lingkaran ini terus tiada akhir!.

Cerita Sesungguhnya:


Meskipun banyak dari data sejarah yang bernilai positif untuk dipercaya… Cerita yang sesungguhnya jauh lebih berbahaya daripada apa yang mungkin diperkirakan.

"Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: "Datangkanlah Al Qur'an yang lain dari ini atau gantilah dia". Katakanlah: "Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)".

Katakanlah: "Jika Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu". Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya?

Maka siapakah yang lebih lalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa.

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu)." (Quran, 10:15-18)

Ayat di atas secara gamblang menyatakan bahwa orang yang hatinya tidak mengimani pesan dari Allah meminta Muhammad untuk membawakan Quran yang “berbeda” atau “mengubah” Quran tersebut.

Dan Muhammad memberikan respon yaitu: Aku TIDAK DAPAT mengubahnya, saya hanyalah MENGIKUTI apa yang diwahyukan kepadaku!'.

Muhammad tidak dapat “merekayasa” agama sendiri untuk memuaskan keinginan orang-orang di sekeliling beliau… Beliau DIPERINTAHKAN untuk berpegang teguh kepada Quran dan hanya Quran.

Naum, tampaknya setelah kematian Muhammad, mereka yang hatinya tidak sungguh-sungguh menerima pesan yang beliau bawa mulai, pada kenyataannya, “mengubah” Quran dengan melakukan penambahan terhadapnya.

Tampaknya orang-orang ini menyebarkan ajaran yang salah dan mengatasnamakan ajaran tersebut kepada Allah dan tidak mengindahkan peringatan Muhammad:

"Maka patutkah aku mencari hakim SELAIN DARIPADA Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan TERPERINCI? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Qur'an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu. Telah SEMPURNALAH kalimat Tuhanmu (Al Qur'an, sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti PERSANGKAAN BELAKA, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta." (Quran, 6:114-116)

Muhammad mengajarkan umatnya untuk TIDAK mencari yang sumber hukum lain selain yang berasal dari Allah, karena Dia telah memberikan buku yang telah TERPERINCI!

Muhammad juga telah memperingati umatnya untuk tidak mendengarkan apa yang MAYORITAS katakana, karena beliau tahu bahwa mereka hanyalah mengikuti PERSANGKAAN BELAKA!

Namun, meski telah diberikan peringatan yang jelas seperti ini, umat setelah beliau tidak dapat menahan nafsu untuk mengeluarkan pernyataan yang salah terhadap Quran bahwa Quran TIDAK terperinci, dan membutuhkan sekumpulan kisah untuk menginterpretasikannya.

Mereka menyatakan bahwa meskipun Quran itu lengkap (sesuai perkataan Allah), buku itu tetap tidak meliputi semua area dari hukum yang diperlukan.

Mungkin mereka tidak merenungkan ayat berikut:

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) untuk MENJELASKAN SEGALA SESUATU dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (Quran 16:89)

Dengan bukti seperti itu, sangatlah sulit bagi pengikut setia Allah untuk secara gampang membalikkan punggung mereka terhadap perkataan Quran dan menyerahkan nasib mereka kepada orang-orang yang bagi mereka Allah tidak cukup.

'Hadits' Yang Terbaik:


Bagi mereka yang masih mempunyai keinginan untuk berpegang kepada Hadits setelah semua bukti yang diberikan… hanya ada SATU Hadits yang dapat dianggap shahih dan sebaiknya semua orang mengacu kepadanya:

“Allah telah menurunkan perkataan (Hadits) yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya." (Quran 39:23)

Kesimpulan:


Penyembahan berhala, atau menyekutukan Allah, adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa diampuni yang disebutkan dalam Quran. Namun, bagi kebanyakan kita, pikiran kita tidak bisa menerima konsep Allah Semata!

"Sesungguhnya Allah TIDAK AKAN MENGAMPUNI dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. " (Quran 4:48)

Dan ujian paling besar hanyalah sebagai berikut:

“Dan apabila HANYA nama Allah SAJA yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sekutu-sekutu SELAIN Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.” (Quran 39:45).

Apakah pembahasan mengenai berpegang teguh kepada Quran Semata begitu mengganggu anda? Atau apakah hati anda benar-benar meyakini?

"…Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang PALING BAIK di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. " (Quran 39:18)

http://web.archive.org/web/20060623103826/http://www.free-minds.org/indonesian/hadith.htm

’Hadits dan Sunnah’ dalam Islam

Prinsip Quran Terhadap Kedudukan
’Hadits dan Sunnah’ dalam Islam

Oleh saudara Mujahid (e-mail: mquran@yahoo.com)

Terjemahan oleh Adley (adley194@yahoo.com)

Quran, kitab suci terakhir dari Allah kepada umat manusia diakui sebagai sumber pertama dan utama dalam Islam.Hadits dan Sunnah yang dianggap sebagai sumber kedua dalam Islam, haruslah mendapatkan validasi dari Quran. Hal ini perlu karena memang Quran diwahyukan oleh Allah, sedangkan Hadits dan Sunnah, meskipun bersumber dari Muhammad sendiri, tetap saja bersumber dari manusia.

PRINSIP 1:

Demi Kitab (Al Qur'an) YANG MENJELASKAN (Quran: 44.2)

PRINSIP 2 :

Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur'an) kepadamu DENGAN TERPERINCI? (Quran: 6.114)

PRINSIP 3:

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an YANG KONSISTEN lagi berulang-ulang (Quran: 39.23)

PRINSIP 4:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya PENDENGARAN, PENGLIHATAN DAN HATI (PEMIKIRAN), semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (Quran: 17.36).

PRINSIP 5:

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat PERTENTANGAN YANG BANYAK di dalamnya.

(Quran: 4.82).

PRINSIP 6:

Maha Suci Allah yang telah menurunkan AL-FURQAAN (AL QUR'AN / KRITERIA / PEMBEDA) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (Quran: 25.1)

Ke-6 prinsip di atas bila kita sederhanakan akan menjadi:

  1. Quran itu MENJELASKAN hal-hal atau permasalahan
  2. Quran dijelaskan secara TERPERINCI
  3. Quran adalah kitab YANG KANDUNGANNYA KONSISTEN sehingga akan menggunakan istilah yang sesuai dan konsisten untuk konsep atau topik pembahasan yang sama
  4. Segala hal yang diterima sebagai ‘ilmu pengetahuan’ harus dapat dilihat, didengar, atau direnungkan dan dipikirkan menggunakan akal.
  5. Apapun yang berasal dari Allah, haruslah konsisten. Di lain pihak, apapun yang berasal dari manusia atau selain-Nya, pastilah mengandung BANYAK PERTENTANGAN.
  6. Quran menyebut pula dirinya sebagai Al-Furqan atau Pembeda atau bisa juga Pembuat Kriteria yang menunjukkan bahwa Quran haruslah menjadi titik awal dari segala hal yang akan diputuskan hukumnya.

Semua prinsip di atas mungkin terlihat singkat dan sederhana, tapi anda akan melihat kesemuanya itu didemonstrasikan dalam keseluruhan Quran. Hadits dan Sunnah haruslah menaati kriteria yang ditetapkan Quran jikalau ingin diterima sebagai sumber hukum Islam.

Silakan baca ayat berikut:

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya. (Itulah) tiga 'aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Quran 24.58)

Ayat di atas sangatlah jelas dan terperinci! Bahkan diberikan angka (yaitu 3) untuk menunjukkan betapa terperincinya Quran itu.

Berikut adalah demonstrasi berikutnya:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun daripada utangnya. Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakan, maka hendaklah walinya mengimlakan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu, (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Quran: 2.282)

Oleh karena itu, kita tidak bisa menuduh Quran sebagai kitab yang tidak jelas, tidak terperinci, dan tidak konsisten hanya karena kita tidak bisa menemukan di dalamnya pemahaman yang setuju dengan pemahaman kita.

Sekarang marilah kita menerapkan prinsip-prinsip di atas terhadap ‘Hadits dan Sunnah’:

PRINSIP 1: Quran menjelaskan atau membuat permasalahan menjadi jelas.


Pendukung setia hadits dan sunnah berpegang kepada potongan ayat atau ayat yang diambil di luar konteksnya untuk meyakinkan kita bahwa hadits dan sunnah adalah bagian dari Islam. Beberapa di antara ayat tersebut adalah:

  1. ‘taatilah Allah dan Rasul-Nya' (meskipun jelas-jelas Quran mendefinisikan bahwa Rasul itu hanyalah saat mendapatkan insipirasi berupa wahyu)
  2. 'pada diri Rasul dapat ditemukan budi pekerti yang agung' (meskipun Quran jelas-jalas memerintahkan Muhammad untuk mengikuti ajaran Ibrahim yang tercantum dalam Quran itu sendiri)
  3. ' Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia…' (ini adalah setengah ayat, kutipan kseluruhan ayat akan menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang harta rampasan perang, bukan hadits dan sunnah)

Tidak ada satu ayatpun dalam Quran yang mengatakan apa yang kita kenal sebagai 'hadits dan sunnah Muhammad'.

PRINSIP 2: Quran dijelaskan secara terperinci


Para pendukung setian hadits dan sunnah menyatakan bahwa kedua hal ini menyediakan penjelasan atau rincian kehidupan yang Islami. Dapat dengan mudah kita katakan bahwa ini tidaklah benar. Quran bukanlah suatu dokumen seperti pada umumnya. Seperti yang dapat kita baca dari ayat 24.58, Quran bersifat terperinci saat Allah menginginkan kita mendapatkan informasi yang mendetil. Hanya saja tingkat perincian ini tidaklah terperinci bagi mereka yang menerapkan standar buatan sendiri mengenai apa yang bisa dianggap sebagai “terperinci” yang sebenarnya.

Meskipun Quran jelas terperinci, kita tidak dapat melihat hal serupa dari system klasifikasi yang merupakan penyaring hadits dan sunnah. Hadits mengandalkan system klasifikasi yang menyatakan kepada kita hadits mana yang shahih dan mana yang tidak. Namun sistem ini tidak disebutkan dalam Quran sama sekali. Malahan, sistem tersebut diciptakan dan dikembangkan oleh kaum terpelajar sunni dan seperti yang dapat diperkirakan, terdapat banyak standar yang menjadi kriteria pengambilan keputusan. Segalanya bersifat relatif tergantung kepada opini si terpelajar.

PRINSIP 3: Quran memiliki kandungan yang konsisten.


Quran MEMANG menggunakan kata-kata ‘hadits’ dan ‘sunnah’. Sebagai contoh:

Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan HADITS manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya. (Quran 45.6)

Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada HADITS manakah lagi mereka akan beriman selain kepada Al Qur'an itu? (Quran 7.185)

Maka kepada HADITS apakah selain Al Qur'an ini mereka akan beriman? (Quran 77.50)

Allah telah menurunkan HADITS yang paling baik (yaitu) Al Qur'an… (Quran 39.23)

Seperti yang dapat kita lihat, meskipun Quran memiliki kandungan yang konsisten, ia TIDAK PERNAH menggunakan ‘hadits dan sunnah’ sebagai ‘hadits dan sunnah Muhammad’. Hal ini merupakan inovasi dari kaum terpelajar Sunni, padahal banyak dari kaum mereka sendiri yang menentang inovasi.

PRINSIP 4: Untuk dapat menerima suatu hal sebagai ilmu pengetahuan, kita haruslah dapat MENDENGAR, MELIHAT, atau menggunakan AKAL sebagai modal penentu benar tidaknya hal tersebut


Hadits dan Sunnah berdasarkan sifat alamiah mereka secara total bertolak belakang dengan Prinsip 4. Koleksi Hadits kaum Sunni menjadi bentuk finalnya sekitar 200 tahun setelah wafatnya Muhammad. Para pengumpul hadits tidak mempunyai pengetahuan yang pasti apakah hadits tersebut langsung bersumber dari sang periwayat atau sebaliknya. Malahan, mereka mengandalkan baik laporan tertulis maupun oral. Mengenai pemakaian akal atau logika, terdapat sedikit sekali atau bahkan tidak ada sama sekali. Beberapa hadits mempunyai karakter secara total tidak sejalan dengan logika atau akal dan kontradiksi terang-terangan dengan Quran itu sendiri. Lebih jauh lagi, koleksi hadits mempunyai banyak sekali klasifikasi oleh banyak sekali kaum terpelajar, sehingga mustahil untuk menerima hadits manapun karena bahkan Shahih Bukhari, yang dikatakan sebagai ‘kitab kedua terbenar setelah Buku Allah’ menurut kaum Sunni itu sendiri, ditemukan hadits yang harus diklasifikasi ulang.

PRINSIP 5: Jika sesuatu itu dari Allah, maka ia tidak akan memiliki pertentangan di dalamnya. Apapun yang bersumber dari manusia akan mempunyai BANYAK pertentangan.


Kontradiksi yang paling jelas yang bersumber dari hadits dan sunnah adalah dengan Quran itu sendiri, sebagai contoh, praktek-praktek sebagai berikut:

  1. Rajam (Penimpukan dengan batu sampai tewas)
  2. Hukuman mereka yang keluar dari Islam (murtad)
  3. Pemakaian hijab berlebihan bagi wanita (jilbab, cadar)
  4. Melarang konsumsi makanan-makanan tertentu (meskipun Quran secara gambling menyatakan bahwa ia adalah satu-satunya sumber yang berhak menentukan apa saja yang diharamkan)

Selain daripada itu, hadits dan sunnah juga bertentangan dengan diri mereka sendiri. Ini ditunjukkan oleh tiga versi ceramah perpisahan, yang disaksikan oleh SEPULUH RIBU ORANG. Ketiga versi tersebut adalah:

  1. Ikuti Quran dan Sunnah (dari Muwatta oleh Malik)
  2. Ikuti Quran dan Keluarga Muhammad (dari Sahih al-Muslim)
  3. Ikuti Quran saja (dari Sahih al-Muslim)

Untuk memperparah keadaan, ketiga versi tersebut tetap saja dikanonisasi oleh buku-buku hadits!

PRINSIP 6: Quran adalah Furqan (Kriteria atau Pembeda)


Jikalau kita cermati, PRINSIP 6 inilah yang merangkum segalanya sejelas-jelasnya. Quran adalah titik awal acuan dari segala hukum Islam yang ingin ditetapkan. PRINSIP 6 sebenarnya adalah gabungan dari PRINSIP 1 sampai PRINSIP 5. Hadits dan sunnah telah dinyatakan tidak lulus ujian Qurani ini.

Mitos 5 Rukun

Mitos 5 Rukun


Dalam Islam versi sekarang, kita diberitahu bahwa agama ini dibangun di atas 5 rukun yang, jika betul-betul ditegakkan, akan memberikan kesempatan yang besar bagi orang yang menegakannya untuk sukses dunia-akhirat...

Kelima rukun tersebut adalah sebagai berikut:

1. Bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah; dan Muhammad SAW adalah utusan-Nya;

2. Shalat 5 waktu;

3. Zakat sebesar 2.5% per tahun;

4. Puasa di bulan Ramadhan;

5. Naik Haji ke Mekah bagi yang mampu setidaknya sekali seumur hidup.

Hal tersebut di atas merupakan ajaran yang diterima lebih dari 1 milyar orang sebagai 'Islam'... Yang mungkin telah jelas bagi para pembaca situs ini ialah bahwa Allah telah menyediakan bagi umat manusia suatu SISTEM (bacalah artikel Apa Arti Agama?) dan bukanlah sekumpulan ritual belaka.

Dalam artikel ini, akan kami presentasikan rukun yang ‘sebenarnya’ yang dapat menyatukan seluruh Muslim, sekaligus memberikan beberapa artikel pilihan yang akan menawarkan pengertian yang berbeda dari rukun-rukun yang dikenal seperti sekarang ini.

Rukun Islam Yang ‘Sebenarnya’


Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),

(lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.

Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif." dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Quran 16:120-123)

Monotheisme (paham Satu Tuham) berhubungan secara langsung dengan ‘Jalan Yang Lurus’:

Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik". (Quran 6:161)

Jalan Yang Lurus


Berikut adalah HUKUM yang seluruh Muslim wajib tegakkan dan junjung tinggi:

Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu:

[1] janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia,

[2] berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa,

[3] dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka;

[4] dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi,

[5] dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).

[6] Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.

[7] Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya.

[8] Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendati pun dia adalah kerabat (mu),

[9] dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat,

[10] dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus*, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. (Quran 6:151-153)

*Perhatikan bahwa ini adalah Jalan Yang Lurus yang SAMA dengan apa yang telah diwahyukan bukan hanya kepada Ibrahim AS, namun juga Musa AS dan kaumnya (dengan pengecualian hukum hari Sabbath atau hari Sabtu yang dibuat sebagai hukuman terhadap kaum Israel – Quran 16:124).